Selasa, 21-November-2017 17:14
Artikel 
Peran Serta Masyarakat Menanggulangi Transnational Organized Crime
Sabtu, 07-April-2012 00:40
Oleh: Brigjen Polisi (Purn) Drs. Parasian Simanungkalit, SH. MH
Kemajuan sains dan teknologi terutama di bidang komunikasi, informasi dan transportasi merupakan fakta yang tak terelakan terhadap lahirnya era globalisasi. Dampak yang timbul dari globalisasi telah menjadikan negara tanpa batas dan dunia seakan menjadi satu. Fenomena ini sekaligus membawa arah perubahan dalam struktur kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara yang semakin interpendensi. 

Di era globalisasi akan terjadi perubahan-perubahan cepat. Dunia akan transparan, terasa sempit, dan seakan tanpa batas. Arus globalisasi juga akan menggeser pola hidup masyarakat dari agraris dan perniagaan tradisional menjadi masyarakat industri dan perdagangan modern. Dari kehidupan sosial berasaskan kebersamaan kepada masyarakat yang individualis, dari lamban kepada serba cepat. Asas-asas nilai sosial menjadi konsumeris-materialis. Dari tata kehidupan yang tergantung dari alam kepada kehidupan menguasai alam. Di samping itu, kemajuan teknologi yang menjadi ujung tombak era globalisasi tentunya akan berjalin-kelindan dengan munculnya perubahan-perubahan di bidang kemasyarakatan. Perubahan-perubahan tersebut dapat mengenai nilai-nilai sosial, pola-pola perikelakuan, organisasi, susunan lembaga-lembaga masyarakat dan wewenang interaksi sosial dan lain sebagainya. 

Dengan demikian bisa dipastikan jika globalisasi membawa sisi yang berlainan, bak dua sisi mata uang, sisi pertama globalisasi memang membawa dampak positif bagi perkembangan peradaban manusia yakni peradaban teknologi informasi dan komunikasi, tetapi di sisi lain globalisasi juga membawa dampak negatif, tentunya hal inilah yang harus dicermati sehingga kita bisa memanfaatkan sesuatu yang positif dan meninggalkan atau menghindari hal-hal negatif yang dibawa globalisasi. 

Salah satu dampak negatif yang timbul dari arus globalisasi yakni tersisitematisnya kejahatan yang melibatkan jaringan internasional. Dengan memanfaatkan kemajuan teknologi transportasi, informasi dan komunikasi yang canggih, modus operandi kejahatan masa kini dalam waktu yang singkat dan dengan mobilitas yang cepat dapat melintasi batas-batas negara (borderless countries). Inilah yang dikenal sebagai kejahatan yang berdimensi transnasional (transnational criminality).

Kejahatan lintas batas negara ini dapat juga dilakukan secara terorganisir. Untuk jenis yang demikian maka disebut sebagai Transnational Organized Crime (TOC). Pada prinsipnya tidak berbeda dengan kejahatan lintas batas negara, namun pada TOC ada unsur terorganisasi. Pengorganisasian kejahatan TOC dilakukan oleh organized criminal group, yang menurut Conventional against Transnational Organized Crimes yang ditandatangani di Palermo Italia, tahun 2000 (selanjutnya disebut Konvensi Palermo 2002) dirumuskan sebagai a structured group of three or more persons, existing for a period of time and acting in concert with the aim of committing one or more serious crimes or offences established in accordance with this Convention, in order to obtain, directly or indirectly, a financial or other material benefit. Atau secara umum TOC dapat dirumuskan sebagai bentuk kejahatan yang "menyediakan barang atau jasa secara ilegal untuk mendapatkan keuntungan". Dengan perumusan secara umum ini, cakupan organized crime menjadi sangat luas, dimana di dalamnya bisa termasuk penyelundupan senjata, perdagangan narkotika, penyelundupan benda-benda antik, perdagangan organ tubuh manusia, dan lain-lain (Vermonte:2002:45).

Mengingat kejahatan ini bersifat terorganisir dan berorientasi pada kekuasaan dan uang, maka TOC menjadi ancaman bagi keamanan nasional suatu negara atau suatu kawasan. TOC juga mengancam negara dalam seluruh dimensinya, dan pada saat yang sama ancaman TOC terkait erat dengan keamanan individu warga negara, dan pada dasarnya telah mengancam lima dimensi keamanan yakni militer, politik, ekonomi, sosial-budaya dan lingkungan. Oleh karenanya TOC harus dilihat sebagai ancaman terhadap keamanan negara. Dengan demikian TOC tidak dapat dipandang hanya sebagai sekedar kejahatan, melainkan lebih dari itu adalah sebagai bentuk ancaman keamanan negara, kawasan dan global.Ancaman kejahatan lintas batas negara (transnational organized crime) telah menjadi salah satu keprihatinan utama dunia, tidak terkecuali di kawasan Indonesia, kawasan Asia Tenggara atau Asia Timur secara keseluruhan tergolong rawan terhadap ancaman kejahatan transnasional, seperti gerakan terorisme, sindikat perdagangan narkoba, penjualan senjata ilegal, perampokan di laut, mafia pencucian uang dan kejahatan melalui internet (cyber crime).

Badan Narkotika Nasional (BNN) pada tahun 2008 melaporkan bahwa pengguna narkoba di Indonesia telah mencapai 3,5 juta jiwa atau sekitar 1,99 persen dari jumlah penduduk di Indonesia mengalami ketergantungan narkoba, dan sejak tahun 2006-2008 korban pengguna narkoba yang telah meninggal dunia setiap tahunnya mencapai 15.000 jiwa.  Artinya dalam setiap bulan korban yang meninggal akibat narkoba mencapai 1.250 jiwa atau 41 jiwa per-hari dengan 78 persen terjadi pada anak muda berusia 19-21 tahun. Menurut Dadang Hawari, fenomena penyalahgunaan narkoba itu seperti fenomena “gunung es”. Angka yang sebenarnya adalah sepuluh kali lipat dari jumlah penyalahguna yang ditemukan.

Sementara itu pada saat memperingati Hari Anti-Narkoba Internasional (HANI) yang diselenggarakan di Jakarta, 26 Juni 2011, Kepala BNN, Gories Mere melaporkan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bahwa jumlah korban pengguna narkoba di Indonesia terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2009 adalah 1,99 persen dari penduduk Indonesia berumur 10-59 tahun atau sekitar 3,6 juta orang. Pada tahun 2010, prevalensi penyalahgunaan narkoba meningkat menjadi 2,21 persen atau sekitar 4,02 juta orang. Pada tahun 2011, prevalensi penyalahgunaan meningkat menjadi 2,8 persen atau sekitar 5 juta orang.

Dengan demikian dalam kurun waktu dua dasawarsa terakhir ini Indonesia telah menjadi salah satu negara yang dijadikan pasar utama dari jaringan sindikat peredaran narkotika yang berdimensi internasional untuk tujuan-tujuan komersial. Untuk jaringan peredaran narkotika di negara-negara Asia, Indonesia diperhitungakan sebagai pasar yang paling prospektif secara komersial bagi sindikat internasional yang beroperasi di negara-negara sedang berkembang.

Para pakar memperingatkan bahwa peredaran narkoba via internet melonjak tajam seiring penggunaan internet yang kian umum. Meski belum ada statistik pasti, tantangan yang dihadapi aparat terkait semakin besar. Menurut Daniel Altameyer, Anggota Kepolisian Internasional, transaksi narkoba via internet terus mengalami pelonjakan. Menurutnya membeli narkoba di internet sangatlah mudah. Yang diperlukan hanyalah warnet, kartu kredit dan itu bisa langsung dilakukan.Altameyer memaparkan bahwa melalui internet, kaum muda ini bisa mengakses situs, forum sampai chatroom yang bisa menghubungkan dengan distributor narkoba dalam beberapa klik saja. Dari ekstasi, heroin sampai kokain mudah didapatkan via jagad web.

Berikut ini beberapa contoh kasus pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi  terhadap peredaran narkoba:

 

  1. Kasus penggerebekan pimpinan kartel Cali, Jose Santacruz Londono di Kolombia, memperlihatkan bagaimana narkoba disebarkan ke penjuru dunia dengan mengunakan teknologi canggih. Fasilitas yang digunakan antara lain sebuah komputer mainframe dengan mesin powerful, IBM AS/400 yang saat itu berharga 10.000-100.000 Dolar Amerika, dan biasanya hanya terdapat di bank-bank besar. Selain itu, terdapat pula sejumlah komputer yang terhubung dengan mainframe tersebut dan dioperasikan secara bergantian oleh 4 hingga 6 ahli komputer yang bertugas.
  2. Polres Jakarta Pusat mengungkap jaringan sindikat prostitusi via jejaring sosial facebook, yang diduga juga melibatkan jaringan narkoba. Pasalnya ketiga korban yang berhasil diamankan oleh kepolisian mengaku diajak mengkonsumsi narkoba oleh salah seorang rekan pelaku dengan iming-iming akan dikasih 50.000. Dalam penyidikan yang dilakukan polisi kemudian menduga bahwa ketiga korban akan dimanfaatkan oleh jaringan narkoba sebagai kurir atau pengedar.
  3. Tahun 2010 Unit Satuan Narkoba (Satnarkoba) Kepolisian Wilayah Kota Besar (Polwiltabes) Surabaya mengungkap keberhasilan seseorang meracik bahan dasar narkoba sebagian besar diperoleh dari informasi di internet. Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Jatim, Irjen Pol Anton Bachrul Alam pada waktu itu mengungkapkan pelaku bandar narkoba yang digerebek di Surabaya dengan barang bukti satu paket sabu-sabu seberat satu gram dan dua kantong plastik ephedrine (prekusor sabu-sabu) dan beberapa bahan kimia di antaranya aspirin, soda api, HCl, dan amoniak itu bernama Fery. Ia belajar meracik dan membuat narkoba secara otodidak melalui internet. “Dia mengumpulkan semua bahan dari internet kemudian mempelajarinya satu-satu,”  kata jenderal berbintang dua itu. Mantan Kabid Humas Polda Metro Jaya itu sempat pula menunjukkan sebuah laptop milik Fery yang penuh file cara pembuatan sabu-sabu. Semuanya hasil unduhan internet. Selain file berformat PDF, juga didapati klip video berjudul Making Metamphetamine dalam bahasa Inggris lengkap dengan teksnya.
  4. Transaksi peredaran narkoba dengan menggunakan telepon seluler terjadi pada terpidana Budoyono Prasetiyo. Dalam berkas putusan Pengadilan Jakarta Selatan dinyatakan bahwa terdakwa dalam aksinya mengunakan handphone sebagai media transaksi. Awalnya ia mendapat SMS dari Alvi (Calon Pembeli/Status DPO) yang ingin membeli narkoba jenis heroin, kemudian Budoyono (terdakwa) menanyakan kepada bandar bernama Sulaiman. Dari tangan Sulaiman kemudian terdakwa memperoleh barang seberat 2,7 gram dan menjualnya ke Alvi. Namun sebelum heroin itu diterima Alvi, terdakwa terlebih dahulu ditangkap anggota Polri dengan barang bukti di tangan.  

Pergeseran tren di kalangan produsen narkotika sebagaimana terlihat di atas, membuktikan betapa sindikat narkotika sangat dinamis dan fleksibel dalam mencermati keadaan, termasuk menggunakan dan memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi.

Apa yang sudah dilakukan bersama antara masyarakat, pemerintah dan aparat penegak hukum dalam upayanya menanggulangi kejahatan yang berdimensi transnasional tentu harus tetap dilakukan dan ditingkatkan kualitas maupun kuantitasnya secara berkelanjutan. Namun demikian, perlu juga untuk dilakukan evaluasi dari waktu ke waktu mengingat karakteristik TOC sebagai kejahatan terorganisir, memiliki jaringan yang luas, modus kejahatan yang terus diperbaharui dengan melihat kelemahan pengawasan aparat penegak hukum dan kontrol sosial masyarakat. Dengan demikian, TOC hendaknya tidak dilihat sebagai tanggung jawab pemerintah saja, tetapi menjadi tanggung jawab bersama seluruh bangsa.

Komentar(0 komentar)
Jumat, 06-April-2012 22:40
DAPATKAN BUKU
Pemerintah Indonesia mengkatagorikan narkoba sebagai kejahatan luar biasa (extraordinary crime) sekaligus kejahatan transnasional...
Selasa, 25-Desember-2012 02:48
Tabloid Dwi Mingguan
Tabloid Suara Gepenta News terbit Dwimingguan. Mengungkap ragam informasi tentang Narkoba, Tawuran dan Anarkis. 
Polling
Apakah anda setuju jika korban pengguna narkoba yang tertangkap tidak dipenjara, tetapi langsung ditempatkan di tempat rehabilitasi
Setuju
Tidak Setuju
Tidak tahu

Agenda Kegiatan
PrefNovember 2017Next
MngSenSelRabKamJumSab
   1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  
Aktifkan NSP/RBT GEPENTA
"Haramkan Narkoba Cegah Tawuran Anarkis"
Oleh: GEPENTA Trio

Ketik:
RING ON 1310572
Kirim: 1212

Ketik:
RING ON 0310572
Kirim: 1212

Mentari, Matrix, Star One
Ketik:
SET 1902018
Kirim: 808

M3
Ketik:
SET 190201899
Kirim: 808

Ketik:
RING 0310572
Kirim: 888

Ketik:
10108667
Kirim: 1818
DAPATKAN KEMBALI: Buku "Globalisasi Peredaran Narkoba dan Penanggulangannya di Indonesia" Karya Brigjen Pol (Purn) Dr. Drs. Parasian Simanungkalit, SH, MH. Tersedia di Kantor DPN Gepenta atau bisa menghubungi layanan 081284390974. Harga Rp.60.000 (Belum termasuk ongkos kirim)