Selasa, 21-November-2017 17:14
Artikel 
PERDAGANGAN NARKOBA INTERNASIONAL
Pantai-Pantai RI Rawan, Aparat Hukum Harus Tegas
Senin, 16-April-2012 19:40

Kalau terpidana mati narkoba belum atau tidak dieksekusi mati, mafia narkoba internasional akan meningkatkan penyelundupan narkoba ke Indonesia. Pabrik psikotropika juga akan meningkatkan produksi di Indonesia.
Pada tahun 2011 terjadi 26.500 kasus narkoba dan tersangka yang tertangkap 32.763 orang, seperti penyelundup, pembuat, pengedar, penjual, pengangkut, dan korban pengguna. Barang bukti yang disita mencapai Rp 925,961 miliar. Kalau dibandingkan dengan tahun 2010 jumlah kasus yang ditangani Polri sebanyak 25.531 kasus. Pada tahun 2011 ada kenaikan kasus 12,62 persen. Jumlah tersangka tahun 2010 sebanyak 29.681. Jika dibandingkan dengan tahun 2011 ada peningkatan tersangka 10,38 persen.
Data korban pengguna narkoba pada tahun 2010 ada 5 juta orang, atau meningkat 10 persen menjadi 5,5 juta orang. Ini akan meningkat terus apabila penegakan hukum lemah.
Peredaran narkoba dipicu para terpidana yang menjalani hukuman, tetapi bisa melakukan kegiatan dengan memanfaatkan alat komunikasi, baik telepon seluler maupun menerima pesan-pesan di internet. Kejadian yang dapat diungkap adalah peristiwa terbongkarnya peredaran narkoba di sebuah lapas.
Hampir semua terpidana di lapas itu menjadi pengguna narkoba, demikian juga sipir dan karyawan lapas tersebut. Ini terbukti setelah diadakan tes urine oleh Badan Narkotika Nasional. Kasus peredaran narkoba dari lapas dan penyelundupan narkoba masuk lapas sudah setiap hari terjadi sehingga dapat dikatakan, lapas adalah tempat pengedar dan peredaran narkoba.
 

Pintu-Pintu Masuk
Kita juga melihat periode tahun 2009 sampai tahun 2011, yang mencatat penyelundupan narkoba melalui bandara, seperti Bandara Ngurah Rai, Bali, sebanyak 32 kali dengan berbagai jenis narkotika, baik morfin, heroin, sabu, maupun ekstasi. Peristiwa 32 kali penyelundupan narkoba ini tertangkap.
Akan tetapi, diprediksikan di tempat-tempat lain ada yang tidak tertangkap. Hal ini diduga terjadi karena banyak pelabuhan yang tidak terawasi. Demikian juga apabila pesawat tiba, diperkirakan ada penyelundup yang telah menyiapkan personel yang siap menerima titipan di tangga atau di pintu keluar yang tidak dijaga petugas.
Demikian juga penyelundupan narkoba dari luar negeri melalui Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, telah pula banyak yang ditangkap oleh petugas bandara bersama Polda Metro Jaya.
Pada tahun 2011 terjadi penyelundupan yang berhasil digagalkan petugas, sebanyak 61 kasus. Namun, diduga penyelundupan narkoba dari Malaysia dan negara-negara lain juga terjadi di beberapa daerah di pelabuhan. Ini juga terjadi di luar pelabuhan di hampir semua pantai dan wilayah pelabuhan di Sumatera.
Ada penyelundupan yang terjadi di Ujung Genteng dan Palabuhanratu, di wilayah Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Banyak penyelundupan ini yang berhasil digagalkan petugas pelabuhan dan polisi pelabuhan.
Akan tetapi, tidak tertutup kemungkinan narkoba yang diselundupkan itu lolos dan dapat digunakan oleh pengguna di Indonesia. Ada juga narkoba yang diselundupkan lagi ke negara lain, seperti Papua Niugini, Australia, dan Timor Leste.
Penyelundupan dari bandara dan pelabuhan laut serta pantai yang tidak terawasi adalah sebuah titik rawan. Ini bisa membuat Indonesia menjadi kubangan narkoba. Apabila kita tidak serius menanganinya, Indonesia akan semakin terpuruk dan berpotensi pada hilangnya generasi penerus bangsa. Ini lambat atau cepat akan merusak perekonomian negara.
 

Penanganan Narkoba
Ada banyak masalah soal narkoba, baik itu soal jaringan internasional maupun persoalan di dalam negeri. Namun, intinya adalah jika Indonesia ingin kita bebaskan dari bahaya narkoba, ada beberapa terapi yang harus dilaksanakan.
Salah satunya, laksanakan eksekusi mati terhadap terpidana mati narkoba yang permohonan grasinya telah ditolak oleh Presiden RI. Jaksa agung harus segera menerbitkan surat perintah eksekusi tembak mati di depan regu tembak Brimob Polri.
Dari tahun 2000 hingga 2011 terdapat 58 terpidana mati narkoba yang diputus oleh beberapa pengadilan negeri di berbagai tempat. Dari jumlah terpidana mati tersebut, terdapat 11 terpidana mati yang permohonan grasinya telah ditolak Presiden.
Ini artinya, jaksa agung harus beraksi dan melaksanakan eksekusi mati tersebut dengan meminta peran kapolri. Apabila eksekusi mati ini dilaksanakan seperti yang terjadi di China, Iran, Arab Saudi, Thailand, Malaysia, dan Singapura, maka penyelundup narkoba akan mengurungkan niatnya melakukan penyelundupan. Dengan demikian, mafia narkoba internasional akan berpikir melakukan penyelundupan narkoba ke Indonesia.
Ada pertentangan soal hukuman mati ini. Namun, jika dibandingkan dengan anak-anak bangsa yang sebanyak 15.000 orang meninggal setiap tahun karena narkoba, tidak ada pelanggaran HAM apabila eksekusi mati dilakukan terhadap terpidana mati di Indonesia.
Jaksa agung juga agar memerintahkan anggotanya, jaksa penuntut umum, melakukan tuntutan dan dakwaan ancaman hukuman tertinggi dalam pasal yang dilanggar oleh bandar pengedar, penyelundup, dan pembuat narkoba.
Ketua Mahkamah Agung juga memerintahkan hakim yang menangani perkara narkoba untuk menjatuhkan hukuman tertinggi pada pasal yang dilanggar. Menteri hukum dan ham memerintahkan dirjen pemasyarakatan untuk memasukkan ke penjara/lembaga pemasyarakatan semua terpidana narkoba.
Saran lain adalah agar kapolri memerintahkan semua kepala wilayah memberantas bandar pengedar narkoba dan membersihkan peredaran narkoba di wilayahnya masing-masing. Apabila ada wilayah yang masih rawan peredaran narkoba, pemimpinnya agar diganti.

 

 

Brigadir Jenderal Polisi (Purn) Drs. Parasian Simanungkalit, SH, MH (Ketua Umum Gerakan Nasional Peduli Anti Narkoba dan Tawuran) 

*Tulisan ini pernah dimuat di harian KompasSenin, 27 Februari 2012

Komentar(0 komentar)
Jumat, 06-April-2012 22:40
DAPATKAN BUKU
Pemerintah Indonesia mengkatagorikan narkoba sebagai kejahatan luar biasa (extraordinary crime) sekaligus kejahatan transnasional...
Selasa, 25-Desember-2012 02:48
Tabloid Dwi Mingguan
Tabloid Suara Gepenta News terbit Dwimingguan. Mengungkap ragam informasi tentang Narkoba, Tawuran dan Anarkis. 
Polling
Apakah anda setuju jika korban pengguna narkoba yang tertangkap tidak dipenjara, tetapi langsung ditempatkan di tempat rehabilitasi
Setuju
Tidak Setuju
Tidak tahu

Agenda Kegiatan
PrefNovember 2017Next
MngSenSelRabKamJumSab
   1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  
Aktifkan NSP/RBT GEPENTA
"Haramkan Narkoba Cegah Tawuran Anarkis"
Oleh: GEPENTA Trio

Ketik:
RING ON 1310572
Kirim: 1212

Ketik:
RING ON 0310572
Kirim: 1212

Mentari, Matrix, Star One
Ketik:
SET 1902018
Kirim: 808

M3
Ketik:
SET 190201899
Kirim: 808

Ketik:
RING 0310572
Kirim: 888

Ketik:
10108667
Kirim: 1818
DAPATKAN KEMBALI: Buku "Globalisasi Peredaran Narkoba dan Penanggulangannya di Indonesia" Karya Brigjen Pol (Purn) Dr. Drs. Parasian Simanungkalit, SH, MH. Tersedia di Kantor DPN Gepenta atau bisa menghubungi layanan 081284390974. Harga Rp.60.000 (Belum termasuk ongkos kirim)